ULIL ALBAB

"Dakwah akan terus berjalan dengan ada maupun adanya kita,bila tidak bersama kita dakwah akan bersama yang lain, jika engkau tidak bersama dakwah engkau bersama siapa?"

Minggu, 16 Mei 2010

Biografi Imam Malik

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''

Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ''Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.'' Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi' bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma'mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja'far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja'far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja'far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.


Minggu, 11 April 2010

FISIK RASULULLAH

Saat seseorang memandang fisik Rasulullah saw., ia segera merasakan bahwa ia sedang berada di depan keindahan yang mengagumkan dan tak ada duanya. Penampilan yang mencerminkan ke-percayaan yang mutlak dan tak terbatas. Berikut ini adalah pendapat yang disepakati oleh mereka yang bertemu dan melihat langsung Rasulullah saw.
Ad-Darimi dan al-Baihaqi mentakhrij bahwa Jabir bin Samurah berkata,
“Aku melihat Nabi saw. pada malam bulan purnama, dan ketika aku bandingkan antara wajah Nabi saw. dan indahnya bulan, say a dapati wajah Nabi saw. lebih indah dibandingkan rembulan.”
At-Tirmidzi dan al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata,
“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari Rasulullah saw.. Seakan-akan mentari bersinar dari wajah beliau. Aku tidak pernah dapati seseorang yang lebih cepat jalannya dibandingkan beliau, seakan-akan bumi melipat sendiri tubuhnya saat beliau berjalan. Ketika aku ikut berjihad, aku lihat beliau tidak pernah berlindung di balik perisai.”
Bukhari-Muslim meriwayatkan bahwa al-Barra berkata, 
“Rasulullah saw. mempunyai pundak yang lebar, rambutnya mencapai ujung telinga, dan tidak pernah ada orangyang lebih indah dipandang dibandingkan beliau.”
Muslim meriwayatkan dari Abu Thufail bahwa ia pernah diminta untuk menceritakan tentang Rasulullah saw. kepada kami, kemudian ia menjawab, 
“Beliau memiliki wajah yang putih dan berseri.”
Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw. memiliki dua kaki yang kokoh dan tegap, dan wajah yang indah, yang belum pernah kutemukan wajah seindah itu sebelumnya.” Abu Musa Madini meriwayatkan dalam kitab ashShahabah bahwa Amad bin Abad al- Hadhrami berkata,
“Aku melihat Rasulullah saw., dan tidak pernah melihat wajah seindah itu sebelumnya maupun sesudahnya.”
Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata, “Aku tidak pernah temukan orangyang lebih berani, dermawan, dan lebih bersinar wajahnya, dibandingkan Rasulullah saw..”
Ahmad dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Mahrasy Kahti berkata,
“Rasulullah saw. mengambil umrah darijiranah, pada malam hari. Dan, ketika soya
melihat bagian belakang tubuh beliau, say a seperti melihat perakyang menyala.”
Abdullah bin Imam Ahmad serta al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Ali r.a. berkata,
“Rasulullah saw. bukanlah orangyang tubuhnya tinggi menjulang.Jika berjalan bersama
rombongan, beliau tampak menonjol. Wajahnya putih, kepalanyabesar, alis matanya
panjang dan hitam, danjika ada keringat yang menetes dari wajah beliau, akan tampak
seperti mutiara. Aku tidak pernah melihat wajah seindah wajah beliau, sebelumnya atau
setelahnya.”
Deskripsi tentang Rasulullah saw. yang diberikan oleh Hindun bin Abi Halah,
“Tubuh Rasulullah saw. menampakkan pribadiyang agung. Wajahnya bersinar seperti
bulan purnama. Kepalanya besar. Rambutnya keras. Kuliatnya putih ke-merahan.
Keningnya luas. Alisnya tebal.Jika marah, keningnya meneteskan keringat. Hidungnya
mancung. Tubuhnya diliputi cahaya. Orangyang tidak memperhatikan dengan saksama
menyangkanya amat tinggi.Jenggotnya tebal. Matanya hitam. Kedua pipinya tirus.
Mulutnya lebar. Giginya indah. Memiliki bulu halus di atas perut. Lehernya amat halus.
Tubuhnya sedang. Sedikit gemuk dan tegap, dengan perut dan dada yang seimbang.
Dadanya bidang. Kedua pergelangan tangannya panjang. Telapak tangannya luas.
Kedua kaki dan tangannya kekar. Jari-jarinya panjang. Jalannya tegap, seperti sedang
turun dari ketinggian. Jika menoleh, dengan seluruh tubuhnya. Pandangannya selalu
tertunduk he tanah, danjarang sekali mendongakkan matanya he langit....”
Jika Rasulullah menyentuh seseorang, orang itu akan merasakan ketenangan yang
mengagumkan, dan perasaan ketinggian ruhani yang menakjubkan. Ahmad
meriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berkata,
“Suatu ketika akujatuh sakit di Mekah. Kemudian Rasulullah saw. menjenguk,
meietakkan tangan beliau di kening, dan mengusap wajah, dada, sertaperutku. Hingga
saat ini, aku masih merasakan sentuhan tangan beliau dijantung.”
Muslim meriwayatkan bahwa Jabir bin Samurah berkata,
“Suatu ketika Rasulullah saw. mengusap mukaku dengan tangannya. Aku dapati tangan
beliau demikian sejuknya dan berbau wangi. Seakan-akan tangan tersebut baru
dikeluarkan dari kantong kesturi.”
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Anas r.a. berkata,
“Aku belum pernah menemui sutra maupun beludru yang lebih lembut dari tangan
Rasulullah saw. Dan, belum pernah mencium bau misik atau minyak anbar yang lebih
harum dari Rasulullah saw..”
Penampilan beliau memberikan sugesti kepada orang yang melihatnya bahwa orang
tersebut sedang berdiri di hadapan seorang nabi. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa
Abdullah bin Salam berkata,
“Ketika Nabi saw. datang ke Madinah, aku menemui beliau. Ketika aku melihat wajah beliau, aku segera mengetahui bahwa wajah beliau bukan wajah seorang pendusta.”
Abu Ramtsah Tamimi berkata,
“Aku mendatangi Nabi saw. bersama anakku. Ketika aku melihat beliau, hatiku langsung berkata, ‘Orang ini pastilah nabi Allah.’”
Abdullah bin Rawahah berkata tentang Rasulullah saw,
“Seandainya tidak ada ayat-ayat penjelas pun, yang menerangkan beliau sebagai rasul, niscaya penampilan dan tubuh beliau sudah cukup menjadi keterangan itu.” Ini adalah sebagian riwayatyang menjelaskan tentang tubuh Rasulullah saw.. 
Semua keagungan postur tubuh beliau itu kami ceritakan kembali, sehingga kita dapat menangkap dengan jelas kepribadian Rasulullah saw. dari segala seginya.


Jumat, 26 Februari 2010

Materialisme

MATRIALISME yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab dengan al-maddiyyah adalah satu trend pemikiran dan filsafat yang berkembang sebagai satu aliran dalam perkembangan filsafat Barat, sejak adanya warisan tradisi Yunani hingga kebangkitannya di era modern.

Kata materialisme berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata dasar matter (dalam bahasa Arab: Maddah, atau benda, dalam bahasa Indonesia) dipadang oleh kaum matenalis di kalangan para pemikir dan filosuf, sebagai satu istilah filsafat yang berarti: kenyataan obyektif yang ada secara terpisah dari kesadaran dan terefleksi di dalamnya. Mereka menggambarkan bahwa materi (matter) mempunyai ukuran dan berat, yang memakan tempat, yang membentuk asal segala sesuatu dan unsur-unsumya. Mereka menggambarkan kesadaran manusia sebagai refleksi materi ini, yaitu unsur dasar pertama dalam wujud dan pengaruh. Sedangkan mental atau kesadaran bersifat sekunder dibanding dengan unsur dasar pertama ini. Oleh sebab itu, paham materialisme senantiasa mengantar penganutnya pada ateisme dan mengingkari adanya Tuhan Sang pencipta alam materi ini. Menurut mereka materi adalah sumber kesadaran dan pikiran bagi manusia yang menurut ungkapan ensiklopedi filsafat yang disusun oleh sejumlah ilmuwan pilihan dari Uni Sovyet tentang materialisme yang mengantar kepada ateisme, adalah bahwa materialisme filosofis meyakini bahwa materi bersifat primer sedangkan akal atau kesadaran bersifat sekunder dan termasuk dalam hal ini bahwa alam ini bersifat abadi, tidak diciptakan oleh Tuhan, bahwa alam ini tidak dibatasi oleh waktu dan ruang. Karena paham materialisme berpegang pada keyakinan bahwa kesadaran dan akal adalah produk materi, maka akal dipandang sebagai refleksi dari alam eksternal.

Jika paham matenalisme sebagai trend filsafat yang mencapai puncak perkembangannya dan juga keekstrimannya dalam filsafat Marxisme yang dirumuskan pada abad 19 oleh Karl Marx (1818-1883) dan Frederik Angels (1820-1895), sebenarnya telah tumbuh dan berkembang dalam pemikiran filsafat Yunani jauh sebelum kelahiran Isa al-Masih: ada dalam filsafat Thales (624-547 SM), Anaximenos (588-525 SM), dan Heraclitus (544-483 SM). Bagi para filosuf ini materi berdiri dengan sendirinya tanpa diciptakan oleh penciptanya.  Orientasi materialistik juga ditemukan pada para filosuf Barat selain penganut paham masxisme baik sebelum maupun setelah masa perkembangan Marxisme, sebagai contoh: Hacksly Thomas. H (1825-1895) dan pembahasannya tentang hubungan kesadaran dan pikiran dengn materi dan tubuh mengemukakan: "Tampaknya bahwa kesadaran berkaitan dengan organ-organ tubuh sebagai akibat sekunder dari kinerja tubuh, tidak lebih dari itu. Ia tidak memiliki daya apapun untuk mengatur kinerja tubuh seperti halnya dengan bunyi mesin yang menyertai gerak kereta api tanpa memberi pengaruh pada alat-alatnya." Ia juga mengatakan: "Pikiran yang diungkapkan dengan ucapan kata dan pikiran-pikiran Anda pada hal-hal yang bekaitan dengannya tidak lain adalah satu ungkapan tentang perubahan parsial." Dengan sendirinya para penganut paham ini yang mengingkari adanya Pencipta materi karena adanya keyakinan tentang kepertamaan materi serta dampaknya pada kesadaran dan pikiran sebagai refleksi dari alarn eksternal, mengingkari: kebangkitan manusia setelah mati, hari perhitungan amal (hisab), balasan atas perbuatan manusia selama hidup di dunia (jaza’) bahkan mengingkari alam gaib secara keseluruhan.

Pemikiran Islam telah menawarkan perubahan dalam rentang sejarahnya, kepada sikap pemikiran Barat dalam masalah ini. Tradisi Islam tidak mengenal paham materialisme dan filosuf-filosuf materialis, bahkan Bahasa Arab tidak mengenal makna filosofis untuk istilah materi (maddah) dan tidak juga mengenal materialisme dalam tradisi klasik dan abad pertengahan. Istilah ini dengan pengertian ini baru dikenal dalam kamus-kamus yang rnencatat peradaban Islam pada era modern ini sebagai akibat dari pengaruh filsafat Barat yang datang bersamaan dengan kontak kaum Muslimin dengan Barat pada masa penjajahan. Kata maddah (materi) dalam Istilah Bahasa Arab adalah tambahan yang bersambung dan segala sesuatu yang menjadi bantuan untuk yang lainnya. Sedangkan para-penganut paham filsafat yang mengingkari sang Pencipta dan tidak meyakini selain realitas yang bersifat indrawi sebagai jalur pengetahuan, diistilahkan dengan addahriyyin, yaitu mereka yang menggunakan jalan memperoleh pengetahuan hanya dengan fenomena lahiriah kehidupan dunia, atau aspek materiilnya saja, dan mereka mengembalikan segala pengaruh kepada dahr yang artinya masa:
"Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (dahr) dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (al-Jaatsiyah: 24)

Islam bersikap menolak dan menentang terhadap kelompok dahriyyin ini mulai dari pemeluk agama-agama Timur seperti Sumnisisme di India yang meyakini bahwa hanya indra yang manjadi satu-satunya jalan memperoleh pengetahuan, dan perkembangan selanjutnya berakhir pada paham naturalisme yang meyakini adanya kontradiksi antara proses sebab akibat pada segala sesuatu dan adanya sebab pertama (First cause) yang menciptakan segala sesuatu ini termasuk sebab musababnya. Al-Jahizh (780-869) telah banyak menerangkan pembahasan tentang tidak adanya kontradiksi antara tauhid dan alam, begitu pula Ibnu Sina (980-1037) telah memadukan antara sebab akibat materi pada benda ciptaan karya llahi. Ia mengakui tentang adanya materi tetapi menafikan materi memiliki sifat menciptakan dan mengadakan, dengan mengatakan: "Materi meskipun menjadi penyebab bagi benda, ia bukan suatu sebab yang memberi wujud." Medan aplikasi. paham materialisme Barat modern telah meluas mencalcup ilmu jiwa, dengan mengembalikan kondisi perasaan pada fenomena fisiologis; ilmu akhlak, dengan mengajak manusia untuk membatasi upaya pada kesejahteraan materiil saja; ilmu sejarah, dengan merujuk fenomena historis dan sosial pada realitas ekonomi sebagai asasnya, sebagaimana yang terdapat dalam paham materialisme historis, disamping paham materialisme dialektik yang memberi interpretasi wujud sebagai satu proses perkembangan yang terus menerus bagi materi baik dalam kuantitas maupun kualitas. Akan tetapi paham materialisme ini dalam pemikiran dan ilmu pengetahuan Barat, mengalami set back sejak dasawarsa duapuluhan abad ini dan tepatnya setelah datang masa kejayaan teori relativisme Einstein (1879-1955). - 

Minggu, 07 Februari 2010

AL IKHA' (PERSAUDARAAN)

        Di antara nilai-nilai sosial kemanusiaan yang ditekankan oleh Islam adalah persaudaraan (ukhuwah). Bahwa hendaknya manusia hidup di masyarakat itu saling mencintai dan saling menolong dan diikat oleh perasaan layaknya anak-anak dalam satu keluarga. Mereka saling mencintai, saling memperkuat, sehingga benar-benar terasa bahwa kekuatan saudara adalah kekuatannya, dan kelemahan saudaranya adalah kelemahannya. Dan bahwa sesungguhnya ia akan merasa kecil (tidak berarti) jika sendirian dan dia akan banyak (bernilai) manakala bersama saudara-saudaranya.Karena urgennya permasalahan ini dalam pembinaan masyarakat Islam maka kami akan menjelaskan hal tersebut secara rinci. Seperti kitab, "Al Islam Wal Audha' Al Iqtishadiyah" "Al Islam Wal Manahijil Isytirakiyah," dan "Al Islam Al Muftara 'alaihi," semua karya Syaikh Muhammad Al Ghazali dan lain-lain. Al Qur'an telah menjadikan bahwa hidup bersaudara itu suatu kenikmatan yang terbesar.
Allah SWT berfirman:
"Dan ingatlah akan kenikmatan Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Al-Imran: 103)

Al Qur'an juga menjadikan persaudaraan dalam bermasyarakat di antara orang-orang mukmin sebagai konsekuensi keimanan yang tidak dapat terpisah satu sama lain di antara keduanya. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..." (Al Hujurat: 10)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
.".. Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para
mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya
kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah
mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al Anfal: 62-63)
Rasulullah SAW bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menganiayanya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)..., janganlah saling menghasud, janganlah saling bermusuhan, dan janganlah saling
bertengkar ..., dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara." Telah kami jelaskan sebelumnya tentang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari haditsnya Zaid bin Arqam, bahwa Rasulullah SAW berdoa pada setiap selesai shalat sebagai berikut:
"Ya Allah ya Tuhan kami, dan Tuhan segala sesuatu serta pemiliknya, saya bersaksi bahwa Engkaulah Allah yang Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Ya Allah ya Tuhan kami dan tuhan segala sesuatu serta pemiliknya,
sesungguhnya aku bersaksi bahwa sesunggahnya Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu. Ya Allah ya Tuhan kami, tuhan segala sesuatu dan pemiliknya, sesungguhnya kami bersaksi bahwa sesungguhnya seluruh hamba (Mu) adalah bersaudara."
Dalam doa tersebut, pengakuan prinsip ukhuwwah (bersaudara) diletakkan setelah bersyahadah kepada Allah dengan mengesakan Dia dan bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah sebagai hamba dan rasul-Nya. Dalam ungkapan "Seluruh hamba (Mu) adalah saudara" ada dua makna yang keduanya sama-sama benar, yaitu: 
  Pertama, Sesungguhnya para hamba yang dimaksud di sini adalah seluruh manusia, mereka adalah bersaudara antara yang satu dengan lainnya, dengan alasan bahwa mereka semua putera Adam dan hamba Allah. Ini adalah Ukkuwwah Insaniyah 'Ammah (persaudaraan antar manusia secara umum). Allah SWT telah menyiasati sejumlah Rasul dalam Al Qur'an bahwa mereka itu adalahbersaudara bagi kaumnya, meskipun mereka kufur terhadap risalahnya. Karena adanya sisi persamaan dengan mereka di dalam jenis dan asal mula, sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan Kami telah mengutus kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud." (Al-A'raf: 65)

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih." (Al A'raf: 73)

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib." (Al A'raf: 85)
    Kedua, Bahwa sesungguhnya yang dimaksud hamba di sini adalah khusus kaum Muslimin, karena kesamaan mereka dalam satu millah (agama). Mereka bersatu dalam satu aqidah yaitu mentauhidkan Allah, dan kiblat yang satu yaitu Ka'bah di Baitul Haram. Mereka mereka diikat oleh kitab yang satu yaitu Al Qur'an dan Rasul yang satu yaitu Muhammad SAW serta oleh satu Manhaj yaitu Syari'at Islam. Inilah yang disebut Ukhuwwah Diniyah (Islamiyah) yang khusus yang tidak bertentangan dengan yang pertama. Karena tidak saling menafikan antara yang khusus dan yang umum. Hanya saja ukhuwwah diniyah ini memiliki hak-hak yang lebih banyak, sesuai dengan ikatan aqidah dan syari'ah serta pemikiran dan tingkah laku.

Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah
(Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh)

Jumat, 15 Januari 2010

DUA JENIS PEMIKIRAN (PAHAM) YANG BERBAHAYA BAGI MASYARAKAT




Masyarakat Islam saat ini harus dibebaskan dari dua bentuk pemikiran (paham) yang ditransfer kepada mereka dari tatanan masyarakat lain dan telah merasuk ke seluruh lapisan masyarakat, baik masyarakat awam maupun cendekiawan dan ulamanya.

Dua pemikiran itu adalah:

Pertama, berbagai pemahaman yang mempengaruhi kaum Muslimin pada masa-masa terjajah berupa kesalahfahaman mereka tentang Islam. Seperti memahami zuhud dengan meninggalkan sama sekali kehidupan (dunia) ini sehingga dikuasai oleh orang-orang yang kufur; memahami keimanan terhadap taqdir seperti yang difahami oleh kaum Jabariyah; memahami bahwa fiqih adalah mengutip pendapat orang-orang (ulama) dahulu; memahami bahwa pintu ijtihad itu telah ditutup, akal itu berlawanan dengan wahyu; menganggap wanita sebagai sarang (perangkap) syetan; juga pemahaman bahwa Al Qur'an itu bisa digantung untuk memelihara diri dari jin; atau bahwa berkah Sunnah itu terletak pada pembacaan Shahih Bukhari ketika terjadi kesedihan (musibah); dan memahami masalah wali dan karamah dengan pemahaman yang bertentangan dengan sunnatullah. Dan masih banyak lagi pemahaman yang lainnya yang berkembang pada masa kebekuan ilmu dan pemikiran, taklid di bidang fiqih, perdebatan ilmu kalam, penyimpangan di bidang peribadatan, diktator politik dan dekadensi peradaban.

Kedua, berbagai pemahaman yang menyerang masyarakat kita (kaum Muslimin) bersamaan dengan serangan penjajah. Ia masuk dari pintunya, berjalan bersama rombongannya, berlindung di belakangnya dan menjadikan mereka (penjajah) sebagai kiblat dan imamnya,
padahal belum pernah ada perjanjian antara mereka dengan kita, bahkan belum pernah
terlintas di benak kita.

         Itulah pemikiran-pemikian yang menyimpang berkaitan dengan agama dan dunia, laki-laki dan wanita, keutamaan dan kerendahan, kebebasan dan kejumudan, kemajuan dan kemunduran, halal dan haram dan sebagainya. Pemahaman-pemahaman yang membuat rancu/kabur batas-batas yang memisahkan antara kebebasan berfikir dengan kebebasan kufur, antara kebebasan huquq (hak-hak) dengan kebebasan jusuq (kefasikan), antara ilmiyah dan 'ilmaniyah (sekulerisasi), antara diniyah (agama) dan daulah (negara) Islamiyah. Itulah mufahim (berbagai pemahaman) ghazwul fikri yang menganggap beriman kepada barang ghaib sebagai keterbelakangan, berpegang teguh pada perilaku pada syari'at Allah adalah sikap ekstrim, beramar ma'ruf dan nahi munkar dianggap ikut campur dalam urusan orang lain, percampuran laki-laki dan perempuan tanpa batas dianggap sebagai wujud kebebasan, kembalinya wanita Muslimah untuk mengenakan hijab syar'i (pakaian yang menutup auratnya) dianggap sebagai kemunduran, memanfaatkan warisan (khasanah) Islam dianggap fanatik, menjadikan ulama sebagai panutan dianggap kuno, sementara para "da'i" (missionaris) Barat dianggap sebagai cendekiawan yang menerangi peradaban ummat.

     Maka wajib bagi para da'i, para ulama dan para pemikir lslam untuk mendahulukan pemikiran-pemikiran lslam yang shahih dan orisinil untuk menggusur dan menggeser pemikiran dan pemahaman Barat yang sempat merasuk, baik itu yang lama maupun yang baru. Kedua-duanya sama saja dalam hal menggambarkan lslam dalam wajah yang tidak sesuai aslinya. Semua pemikiran itu beracun, merusak dan sudah basi. Atau sebagaimana dikatakan oleh Ustadz Malik bin Nabi sebagai pemikiran yang mati dan mematikan. Dari sisi lain, jika kita lihat pada permasalahan ini dalam kerangka keadilan, untuk dapat terhindar dari ekstrimintas maka kita harus mengambil pemahaman yang tengah-tengah. Kita menolak segala bentuk sikap berlebihan, baik ghuluw (berlebihan) maupun iftrath (menyepelekan) sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sekuler dan gerakan pembaratan. Telah saya sebutkan dalam kitab saya "Al Islam Wal 'Ilmaniyah" delapan belas pemahaman pokok tentang lslam. Dengannya saya ingin membatasi gambaran lslam yang saya dakwahkan, sehingga tidak ada yang mengira bahwa saya berdakwah kepada lslam yang sulit atau tidak jelas atau khayalan sehingga bisa diinterpretasikan oleh siapa pun sesuai yang mereka inginkan.
Di sini saya kemukakan sekumpulan pemikiran lslam yang cemerlang, sederhana dan lurus yang dibuat oleh ustadz Dr. Ahmad Kamal Abu Majd.
     Saya sependapat dengan pemikiran beliau secara umum, meski saya juga berbeda dalam sebagian uraiannya. Kitab ini sendiri mengemukakan gambaran tentang masyarakat lslam yang kita cita-citakan dalam kerangka pemahaman madrasah wushtha (aliran tengah) yang memadukan antara akal dan wahyu, antara agama dan dunia, dan mengkompromikan antara muhkamaatisy syar'i (kekuatan syar'i) dan muqtadhayaatul 'ashri (tuntutan zaman). Menyeimbangkan antara hal-hal yang konstan (tsawaabit) dan yang mengenal perubahan, menggabung antara salafiyah dan tajdid (yang lama dan yang baru), serta percaya terhadap keterbukaan tanpa harus meleleh/larut dan toleran dengan kebatilan.

Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah (Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh) oleh Dr. Yusuf Qardhawi